Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari sembilan wali atau yang sering disebut Wali Songo. Sunan Kalijaga merupakan penyebar agama Islam yang ulung. Sunan Kalijaga dikenal oleh kalangan muslim sebagai ulama yang memasukkan unsur-unsur ke-Islaman tanpa menghilangkan kearifan budaya masyarakat.
Sunan Kalijaga memiliki nama kecil Raden Mas Syahid. Sunan Kalijaga merupakan putera dari Temanggung Wilatikta, Bupati Tuban. Yaitu, dari ibunya yang bernama Dewi Nawangrum. Sunan Kalijaga kawin dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishak, dan memperoleh tiga orang putera. Mereka adalah Raden Umar Said (sunan muria), Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiyah.
Sunan Kalijaga merupakan salah seorang Walisongo yang cukup terkenal. Beliau dapat dikenal masyarakat luas dikarenakan memiliki lima kelabihan utam, yaitu berjiwa besar, toleran, berpandangan tajam, budayawan dan seniman, serta pujangga.
Dikisahkan bahwa masa remaja Sunan Kalijaga dikenal nakal sehingga diusir oleh orang tuanya. Julukan atas tingkah lakunya adalah Lokajaya, karena kesaktiannya yang begitu sulit tertandingi. Pekerjaanya ialah suka merampok dan menyamun yang sangat ditakuti. Namun selanjutnya, ada seorang tokoh yang mampu menandinginya yaitu Sunan Bonang.
Atas kemampuan yang dimiliki oleh Sunan Bonang, beliau kemudian berkeinginan kuat untuk menjadi muridnya. Dari pernyataan keinginnay tersebut, Sunan Bonang hanya bersedia menerimanya menjadi murid jika ia sanggup menjaga tongkat yang ditancapkan oleh Sunan Bonang di tepi sebuah sungai. Kemudian, terjalinlah hubungan guru-murid antara Sunan Bonang dan Raden Mas Syahid.
Dengan setianya selaku murid, Raden Mas Syahid menaati janjinya dalam menjaga tongkat di tepi sungai itu. ari waktu ke waktu dijagalah tongkat itu dengan setia sehingga akhirnya beliau memenuhi persyaratan yang diminta oleh sang guru.
Di sini ada dua istilah penting yaitu kali dan jaga. Kali berarti sungai dan jaga adalah penjaga. Jika ditambah dengan Sunan akan menjadi Sunan penjaga (tongkat dekat) kali.
Karen kuatnya kemauan menaati janji setianya dalam menjaga tongkat dekat kali itu, dikemusian hari raden Mas Syahid dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga, yakni Sunan penjaga tongkat dekat kali. Selain mendapat sebutan tersebut, beliau juga mendapat sebutan Syekh Malaya dikarenakan beliau berdakwah sambil berkelana.
Masa hidup Sunan Kalijaga cukup panjang dan jasanya pun juga sukup banyak. Sunan Kalijaga hidup dari sejak akhir kerajaan Majapahit hingga ke masa kerajaan Pajang. Jelasnya, masa hidupnya sejak akhir abad ke-15 sampai pertengahan abad ke-16.
Jasa-jasa Sunan Kalijaga sangat nampak pada masa pendirian Masjid demak. Saat itu, Sunan Kalijaga merupakan salah seorang wali yang berkewajiban menyediakan salah satu tiang dari empat tiang pokok (saka guru). Dikisahkan, bahwa tiang pokok itu dibuat dari tatal yaitu serpihan dari kayu sisa. Jika dipahami dalam bahasa simbol artinya bahwa Sunan Kalijaga itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendirian masjid Demak itu.
Disamping itu, Sunan Kalijuga merupakan penasihat umum raja-raja Demak, sejak Raden Patah hingga Sultan Trenggana. Atas jasanya tersebut, maka Sunan Kalijaga diberi hadiah tanah perdikan (tanah bebas pajak) di Kadilangu. Tanah tersebut adalah untuk memiliki secara turun temurun.
Sebagai tokoh yang kuat rasa toleran dan berpandangan tajam, dakwah Sunan Kalijaga adalah khas. Menurut pendapatnya, menyampaikan ajaran Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat, dan sedikit demi sedikit. Kepercayaan, adat istiadat, dan kebudayaan lama tidak harus dihapuskan, tetapi dengan diisi unsur keislaman.
Dari pandangannya tersebut, Sunan Kalijaga lebih dekat kepada kaum rakyat jelata, sedangkan Sunan Giri lebih dekat dengan kaum bangsawan dan hartawan. Di kemudian hari, ada kesepakatan pendekatan dakwah, bahwa dakwah itu perlu ada yang dari atas dan juga dari bawah.
Sebagai seorang budayawan dan seniman, Sunan Kalijaga benyak menciptakan karya-karya yang menggambarkan pendiriannya tersebut.
Pertama, Sunan Kalijaga menciptakan dua perangkat gamelan yaitu yang bernama "Nagawilaga" dan "Guntur Madu". Kemudian, kedua gamelan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Nyai Sekati dan Kiai Sekati (Lambang dua kalimat Syahadat).
Kedua, wayang yang pada zaman Majapahit hanya dilukiskan di atas kertas yang lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dimodifikasi. Yaitu, dengan menjadikan satuan setiap tokoh wayang dan dibuat dari bahan kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan sebutan wayang kulit/wayang purwa.
Ketiga, Sunan Kalijaga juga menciptakan desain baju yang disebut dengan baju takwo (dari bahasa al-Quran libasut takwa), dan juga baju batik yang bermotifkan burung.
Keempat, dalam bidang seni suara Sunan Kalijaga menciptakan lagu Dhandhanggula. Yaitu salah satu jenis lagu mocopat yang setiap baitnya terdiri dari 10 baris, dengan guru wilangan dan guru lagunya yaitu 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a.
Tampaknya, karena Sunan kalijaga adalah seorang wali yang asli Jawa, maka pengaruhnya lebih merata di kalangan masyarakat. Tokoh yang juga dikenal sebagai pujangga ini, sekarang menjadi kenangan banyak masyarakat. makamnya, terletak di desa kadilangu, sebelah timur laut kota Demak.
Itulah kisah singkat dari SUNAN KALIJAGA yang dapat diberikan.
Apabila ada kesalahan atau kekurangan mohon untuk dimaklumi karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah Swt semata.
Semoga kisah di atas dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu sahabat muslim sekalian.
Kata Kunci :
- Walisongo
- Kisah walisongo
- Kisah para wali
- Kekasih Allah
- Kisah Sembilan Wali
- Kisah 9 Wali
- Karomah walisongo
- Pendakwah Islam di tanah Jawa
- Kisah Sunan Kalijaga
- Kisah Raden Sahid
- Karomah Sunan Kalijaga
Label: Sekolah Akhirat