Kisah dan Biografi K.H. Muhammad Khalil


K.H. Muhammad Khalil


Pada postingan artikel kali ini, masyawi.id akan membagikan sebuah kisah biografi dari salah seorang ulama besar tanah air yaitu K.H. Muhammad Khalil.


K.H. Muhammad tergolong ulama besar. Darinya lahir ulama-ulam tangguh. Para Kiai, pengasuh pondok pesantren khususnya di Jawa Timur hampir dapat dipastikan pernah berguru kepada beliau. K.H Muhammad Khalil lahir pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H/1820 M di Kampung Senenan Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan Madura Jawa Timur.

Ayahnya bernama Kiai Abdul Latif. Setelah Kiai Abdul Latif mengadzani telinga kanan dan kirinya terbesik harapan, mudah-mudahan anaknya itu menjadi pemimpin umat sama seperti Waliyullah Sunan Gunung Jati.

Kiai Latif merupakan putera dari Kiai hamim, putera Kiai Abdul Karim, putera Kiai Muharram, putera Kiai Asral Karamah, putera Kiai Abdullah, putera Kiai Sayid Sulaiman cucu Sunan Gunung Jati.

Sejak kecil Kiai Khalil sudah menunjukkan bakat yang luar biasa. Kehausannya akan ilmu terutama ilmu fiqih dan ilmu nahwu sangatlah tinggi. Beliau dikenal sudah hafal dengan baik "Nadham Alfiyah" (seribu bait tentang tata bahasa Arab) sejak usia yang masih muda. Dengan begitu, Kiai Khalil muda dikirim ke berbagai Pesantren untuk menimba pengetahuan.

Sekitar tahun 1850-an, Kiai Khalil berguru kepada Kiai Muhammad Nur di pesantren Langitan Tuban. Untuk emnambah pengalaman, beliau juga nyantri di Pesantren Canggan Bangil Pasuruan. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Keboncandi. Di sini Kiai Khalil berguru kepada Kiai Nur Hasan yang terhitung masih familinya di Sidogiri. Jarak antara Keboncandi dengan Sidogiri lebih kurang 7 km. Setiap hari Kiai Khalil mendayung dua pesantren ini. Setiap menempuh jarak antara keduanya dilalui dengan jalan kaki sambil membaca Surat Yasin. Kiai Khalil dikenal sangat prihatin dalam menuntut ilmu. Terkadang dibarengi dengan berpuasa.

Karena Kiai Khalil berkeinginan belajar di Makkah, maka beliau terlebih dahulu belajar di pesantren daerah Banyuwangi. Di sini beliau menuntut ilmu sambil bekerja sebagai buruh pemetik kelapa pada gurunya dan diberikan upah 2,5 sen. Uang yang didapatnya tersebut ditabung untuk persiapan bekal belajar di Makkah. Pada tahun 1859, beliau memutuskan untuk belajar di Makkah. Namun sebelumnya, beliau dinikahkan terlebih dahulu oleh orang tuanya. Kiai Khalil dinikahkan dengan Nyai Asyik anak perempuan Lodra Putih.

Kiai Khalil kemudian menuntut ilmu kepada para Syaikh dari berbagai mazhab di Masjidil Haram. Namun kecenderungan kepada mazhab Syafi'i tidak dapat disembunyikan. Terbukti beliau lebih banyak belajar kepada syaikh yang beraliran mazhab Syafi'i. Teman seangkatan Kiai Khalil diantaranya Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syaikh Muhammad yasin Padang. Ketika Kiai Khalil tidak memperoleh kiriman dari tanah air, beliau mencari uang sendiri dengan memanfaatkan menulis khat (kaligrafi) yang kemudian dijualnya.

Sepulang dari tanah Arab, Kiai Khalil dikenal dengan ahli Fiqih dan Tarekat. Bahkan, beliau mampu memadukan antara keduanya. Kiai Khalil juga dikenal sebagai al-Hafits (hafal al-Quran). Tidak lama kemudian beliau mendirikan sebuah pesantren di desa Cengkebuan, sekitar satu kilometer barat laut desa kelahirannya. Sedikit demi sedikit para santri dari kampung-kampung sekitarnya mulai mengalir. Setelah puterinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri (Kiai Muntaha), pesantren ini diserahkan kepada menantunya tersebut. Sedangkan Kiai Khalil pindah ke desa Kademangan, sekitar 200 meter sebelah barat alun-alun kota Bangkalan.

Di tempat yang baru itu, beliau mendirikan pesantren yang santrinya tidak saja dari kawasan Madura, melainkan juga banyak yang berasal dari pulau Jawa. Santri pertamanya dari pulau Jawa ialah Kiai Hasyim Asy'ari dari Jombang. Begitu cepat pesantren Kiai Khalil dibanjiri santri karena namanya sudah cukup dikenal sebagai Kiai ahli Fiqih, Tarekat dan ilmu alat (nahwu-sharaf). Kiai Khalil juga dikenal sebagai orang yang waskitq, weruh sa durunge winara (mengetahui akan sesuatu sebelum terjadi).

Pada suatu hari di bulan Syawal, Kiai Khalil mengumpulkan para santri untuk kepentingan informasi. Di tengah-tengah nasehatnya, beliau berkata "Anak-anakku, sejak saat ini kalian harus lebih ketat menjaga pondok. Gerbang depan harus dijaga, sebab sebentar lagi akan ada macan yang masuk ke pondok kita ini. Mendengar penuturan sang Kiai, para santripun mempersiapkan diri. Dalam benak mereka terbayang seekor macan yang akan menerkam mereka. Karena memang pada saat itu di sebelah Timur Bangkalan masih ada hutan yang cukup angker. Selang beberapa minggu tepatnya pada minggu ketiga bulan Syawal, datanglah seorang pemuda kurus, tidak seberapa tinggi badannya, berkulit kuning sambil menenteng koper seng.

Ketika pemuda tersebut berada di depan pintu rumah Kiai Khalil, ia memberi salam "Assalamualaikum". Mendengar ucapan tersebut, Kiai Khalil langsung berteriak memanggil sang santri-santri sambil berkata "Hai santri, ada macan...macan...macan... ayo kita kepung, jangan sampai masuk ke pondok. Setelah sang pemuda itu dikepung, tidak ada jalan lain kecuali pergi, dan keesokan harinya kembali lagi, namun tetap memperoleh perlakuan yang sama.

Pada malam ketiga, diam-diam pemuda tersebut memasuki pesantren. Karena kelelahan dan juga takut, pemuda tersebut meringkuk tidur di bawah kentongan mushalla. Tidak disangka pada tengah malam Kiai Khalil membangunkannya sambil marah-marah. Kemudian diajaknya kerumahnya dan dinyatakan diterima menjadi santri baru di pondok tersebut. Ternyata, pemuda tersebut bernama Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang pendiri NU dan dikenal pula sebagai macan, baik oleh kawan maupun lawannya.

Dalam Kehidupannya, K.H. Khalil dikenal sebagai seorang kiai yang suka berbuat yang aneh-aneh (khariqul adah). Di mata orang awam seing memunculkan teka-teki bahkan sulit dimengerti karen penuh misteri. Namun oleh orang yang tinggi nilai makrifatnya kepada Allah, perbuatan Kiai ini dianggap sebagai isyarat tertentu. Misalnya ketika ia mengusir muridnya Wahab Hasbullah untuk berguru kepada K.H. Hasyim Asy'ari di Jombang. Hal ini dianggapnya sebagai pertanda bahwa dikemudian hari K.H. Hasyim akan menjadi ulama besar dan menjadi panutan umat banyak.

Demikian juga ketika dirinya menyatakan nyantri di pesantren Tebuireng. Hakikat sebenarnya ingin menunjukkan kepada umat bahwa K.H. Hasyim akan menjadi begawan di berbagai bidang ilmu di Nusantara ini. Memang diketahui, setiap bulan puasa kiai Khalil berguru kepada santrinya yang bernama Hasyim Asy,ari itu. Suatu perbuatan yang sulit dinalar.

Ternyata benar, di tahun-tahun berikutnya K.H. Hasyim dibanjiri santri dari berbagai penjuru tanah air.

Sebagai orang yang hidup di zaman penjajahan, Kiai Khalil terlibat langsung dalam pergolakan perjuangan kemerdekaan. Kiai Khalil melakukan perlawanan terhadap penjajah. Cara yang dilakukannya ialah menggiatkanpelaksanaan pendidikan. Melalui jalur ini, beliau mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang tangguh, memiliki ilmu pengetahuan, wawasan dan penuh loyalitas baik terhadap agama maupun bangsa dan negara.

Pemimpin-pemimpin umat dan bangsa yang berhasil dipersiapkan oleh Kiai Khalil antara lain K.H. Hasyim Asy'ari sendiri, pendiri NU dan termasuk Pahlawan Nasional, K.H. Wahab Hasbullah (pendiri pondok pesantren Tambak Beras Jombang), K.H. Bisri Syansuri (pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang), K.H. Maksum (pendiri Pondok Pesantren Lasem Rembang), dan K.H. Bisri Mustafa Ipendiri Pesantren Rembang). Murid-murid lainnya yang juga dikenal oleh masyarakat banyak ialah K.H. Asad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo Asembagus Situbondo) ulama sepuh (tua) yang paling disegani ketika masih hidup.

Dalam hal perjuangan fisik melawan penjajah, Kiai Khalil tidak mengadakan perlawanan terbuka. Beliau lebih banyak berada di belakang laya. Kiai Khalil sering memberikan bekal spiritual (tenaga dalam) kepada para pejuang. Terkadang pesantrennya dijadikan tempat persembunyian para pejuang kemerdekaan waktu itu. Akibatnya Kiai Khalil ditahan oleh penjajah Belanda. Dan ketika dimasukkan ke penjara, tiba-tiba pintu tahanan tidak bisa ditutup, sehingga pihak Belanda dipusingkan gara-gara siang malam mereka tidak bisa tidur menjaga Kiai Khalil.

kiai Khalil memang seorang figur yang memiliki tingkat kewalian yang tinggi. Beliau alim dalam bidang ilmu nahwu, fiqih dan tarekat. Beliau juga dikenal menguasai ilmu qiraah sab'ah(tujuh macam bacaan al-Quran).

Kiai Khalil wafat pada tanggal 29 Ramadan 1343 H/1925 M karena usia sepuh. Meski demikian jejak langkahnya kini tetap terlihat dirambah para penerus dan pengikutnya. Di Indonesia ada sekitar 5000 pesantren lebih yang terus berhidmad dalam kehidupan bangsa dan agama. Sebagian besar pengasuh pesantren memiliki sanad (persambungan) dengan Kiai Khalil Bangkalan Madura.

Demikian kisah dan biografi tentang seorang ulama besar Indonesia K.H. Muhammad Khalil.

Semoga kisah perjuangan beliau dapat menjadi inspirasi kita semua.

Wassalamualaikum wr.wb.

Label: